Posts

Antara Aku dan Senja

Image
                                               Setelah bersembunyi dibalik gumpalan awan hitam yang selalu mengundang hujan di beberapa hari belakangan ini, rupanya senja tahu diri bahwa ada jutaan penduduk bumi bernama Opacarophile   yang selalu menanti kehadirannya. Sepertiku, yang tadi sore ikut merasa damai ketika menyaksikan senja berlabuh di garis cakrawala sebelah barat dengan gradasi warna cantiknya yang perlahan memudar seolah menyambut sopan kedatangan malam yang sekaligus menggantikan perannya bersama bulan – sungguh dualitas yang kontras. Rupanya, bagi sebagian orang, menyaksikan ‘senja’ merupakan sebuah ‘ritual menghidupkan memori’ yang membuatnya merasa reflect, pause, dan hanyut bersama realitas meyaksikan keindahannya.   Pun untukku yang tengah duduk menyaksikannya – ditemani buku yang ha...

Premeditatio Malorum: Sebuah refleksi tentang skenario (buruk) yang akan kita hadapi

"… all these adventitious circumstances which glitter around us, such as children, office in the state, wealth, large halls, vestibules crowded with clients seeking vainly for admittance, a noble name, a well-born or beautiful wife, and every other thing which depends entirely upon uncertain and changeful fortune, are but furniture which is not our own, but entrusted to us on loan: none of these things are given to us outright: the stage of our lives is adorned with properties gathered from various sources, and soon to be returned to their several owners: some of them will be taken away on the first day, some on the second, and but few will remain till the end. "  - Seneca   Untuk beberapa orang mimpi hanyalah sebatas ‘bunga tidur’ yang tidak memiliki arti dan korelasi dengan kehidupan nyata. Sebagian memepercayai bahwa mimipi memiliki arti tertentu yang berkorelasi kuat dengan ingatan, memori, bahkan kondisi psikologis seseorang. Dalam sudut pandang psikologi mimpi di sebut ...

Apa kabar mimpi-mimpimu ?

Image
  S ore ini langit jakarta cerah, tak seperti hari sebelumnya yang mendung dan sendu membuatnya seolah tampak berbeda dari biasanya. Namun keduanya memiliki kesamaan yang statis – kemacetan. Ratusan kendaraan mengantri disetiap persimpangan jalan, menunggu lampu hijau menyala, wajah-wajah lelah dengan tatapan-tatapan kosongnya seolah megungkap banyak hal. Desakan tubuh manusia-manusia pejuang nafkah didalam busway dan KRL menjadi babak akhir perjuangan mereka untuk menutup hari ini dengan harapan secepatnya bisa membasahi tubuh dan berbaring menikmati malam dengan lengkungan bulan sabitnya yang indah. Namun nyatanya, beberapa dari mereka tak merasakan indahnya malam ini, beberapa tak mengharapkan kedatangan esok hari. Beberapa, terdiam. Meratapi mimpi-mimpi yang hanya menjadi sebuah catatan sejarah yang usang. Sepertiku, sosok yang kehilangan arah dimana mimpi itu berada. Apa kabar mimpi? Satu pertanyaan yang tiba-tiba muncul dan mungkin sering dipertanyakan. Kenyataan bahwa...

Everything ends, and that is what makes them valuable

Image
  Sedih dan   bahagia, itulah yang saat ini kurasakan. Menghabiskan 24 jam lebih waktu untuk menelusuri jejak hidup masa perkuliahan membuatku merasa pause dan reflect , seolah waktu menghentikan sementara fungsinya dan mempersilahkan diriku mundur sejenak, melihat dan merasakan kembali napak tilas hidup yang menjadi bagian pendewasaan diri. Sedih karena waktu terasa sangat begitu singkat, dan bahagia karena ada hutang kerinduan yang terbayar lunas. Melihat dan bertemu dengan mereka membuatku sadar, bahwa kita, manusia, dengan segala kompleksitasnya memiliki keterikatan satu sama lain; Ambisi, pilihan hidup, tuntutan, dan harapan sama-sama membuat kita dinamis. Mendengar setiap masing-masing kisah dan jalan hidup yang mereka lalui, senyum dan tawa lepasnya, candaan serta obrolan seriusnya juga membuatku bersyukur bisa pernah dipertemukan dan berposes bersama, di tempat ini, tempat dimana semuanya dimulai. Bandung. Satu kota yang berhasil membuatku jatuh hati dengan sega...

kon.tem.pla.si

Time flies. Tidak terasa ternyata waktu berjalan begitu cepat. Ketika ku pejamkan mata ini dengan tarikan nafas panjang secara perahan dan kuhembuskan kembali, seketika memori-memori itupun kembali muncul. Ya. Setahun silam, ketika pertamakali aku memutuskan untuk pergi mencari tempat pembelajaran baru, pengalaman baru, dan memutuskan untuk meninggalkan kisah lama. Tak terasa, rupanya tuhan memiliki rencananya sendiri untuk membawaku pergi menemui beberapa tempat dan orang-orang baru. Mengombang-ambingkan harapan dan mengacuhkan rindu yang kerap kali datang tanpa permisi. Masih ingat sekali, moment dimana aku bingung untuk sekedar mencari tempat berlindung, pergi kesana kemari untuk sekedar mencari harapan yang masih tersisa. Sesekali ku keluhkan kekecewaan itu pada diri sendiri tatkala harapan itu hilang. Sampai benar-benar lelah rasanya dan hampir saja memutuskan untuk kembali – Tak ingin melawan arus yang sama. Tapi rupanya aku memiliki kekuatan tersendiri untuk bertaha...

Perihal perasaan

Dan ceritapun berganti. Kembali aku menemukan sosok lain dalam kisah yang berbeda. Entah apakah dia akan menjadi semangatku untuk bertahan, atau justru alasanku untuk kembali melepaskan. Entahlah. Rasanya ada sedikit ketakutan menelusuri terlalu dalam. Kisah masa lalu hanya kuingat begitu kelam. Yang datang mengingatkanku setiap malam. Aku tak ingin berharap lebih.  Pada dirinya yang tak ku kenal letih. Aku hanya ingin menjadi tetap seperti ini. Mengaguminya dengan penuh kesadaran diri. Dan jika pada akhirnya waktu membuktikan  Bahwa ia harus digantikan, Aku hanya berharap pada langit, tolong hentikan. Perdebatan perasaan dan nalar ini yang perlahan mematikan.

Perihal Menerima

Terkadang, ketidak-mengertian datang disaat kita merasa sedikit tidak-menerima atau kurang-memahami situasi yang pada saat itu terjadi. Pun bisa karena prasangka buruk yang ada. Bahkan tanpa adanya pemahaman dan kesadaran, kerap kita melampiaskan hal tersebut pada situasi yang lebih sulit, membawa sedalam-dalamnya pikiran kita pada jurang keresahan. Ku tutup mata ini, menarik nafas sedalam-dalamnya. Dalam hati berkata “ya Allah, inikah jalan hidup yang harus kutempuh?” Ketidak-mengertianku akan situasi ini kerap mendatangkan prasangka pada sang pencipta takdir. Rasa tidak bisa menerima, kecewa, sedih, kerap hadir dalam waktu yang bersamaan. Sering aku menggerutu, kesal, bahkan marah. Tapi satu hal yang dapat kupelajari darinya adalah “ tidak merubah keadaan apapun ”. Terkadang, sebagai manusia aku hanya menuruti keinginanku saja. Tanpa memfokuskan diri pada penyelasaian masalah. Satu hal yang aku sadari adalah, hidup akan terus berlanjut apapun keadaan yang terjadi. Ja...