Antara Aku dan Senja

 

                                            

Setelah bersembunyi dibalik gumpalan awan hitam yang selalu mengundang hujan di beberapa hari belakangan ini, rupanya senja tahu diri bahwa ada jutaan penduduk bumi bernama Opacarophile  yang selalu menanti kehadirannya. Sepertiku, yang tadi sore ikut merasa damai ketika menyaksikan senja berlabuh di garis cakrawala sebelah barat dengan gradasi warna cantiknya yang perlahan memudar seolah menyambut sopan kedatangan malam yang sekaligus menggantikan perannya bersama bulan – sungguh dualitas yang kontras.

Rupanya, bagi sebagian orang, menyaksikan ‘senja’ merupakan sebuah ‘ritual menghidupkan memori’ yang membuatnya merasa reflect, pause, dan hanyut bersama realitas meyaksikan keindahannya.

 Pun untukku yang tengah duduk menyaksikannya – ditemani buku yang hampir selesai kubaca – terhanyut sambil memejamkan mata sejenak menjemput memori masa kecil silam, pada waktu yang sama – menjelang Maghrib’ – aku melihat diriku dengan pandangan siluet hitam membelakangi cahaya senja berlari riang ditepi sawah menuju rumah dengan tawa -nya yang lepas seolah menandakan jam bermain hari itu telah usai. Sungguh masih teringat jelas, suatu sore sepulang sekolah aku duduk diteras depan rumah menghadap barat menyaksikan indahnya senja yang perlahan hilang ditemani dengan sebuah lagu berjudul Viva Forever –nya Spice Girls :


"... Viva Forever, I’ll be waiting

Everlasting, like the sun

Live forever, for the moment

Ever searching for the one …"

 

Saat lirik tersebut dinyanyikan, perlahan kututup mata dan menghela nafas panjang seolah hanyut dalam suasana saat itu, dimana usiaku masih 15 tahun yang juga masih merupakan anak sekolah mengenah pertama kelas 8 dengan ambisinya yang kontras berusaha memvisualisasikan dirinya dimasa depan.

11 Tahun berlalu, hari ini,  ditempat yang berbeda dengan jarak sejauh 149 km aku seolah merasakan hal yang sama – hanyut bersama indahnya senja – namun pada kondisi dan situasi yang berbeda. Aku yang saat ini berusia seperempat abad disuguhkan realita yang jauh berbeda dengan visualisasiku di masa silam; dimana kata Sekolah berganti makna menjadi Kantor, rumah menjadi kamar kos, bermain menjadi bekeja, pacaran menjadi pernikahan, kualitas menjadi kuantitas, moril menjadi materil, kita menjadi mereka, bahkan mimpi menjadi khayalan. Sungguh sebuah ironi, semuanya bertransisi menjadi satu kesatuan antara suka dan duka layaknya Majas Oksimoron dalam istilah sastra.

Namun begitu adanya, pada kenyataannya waktu memang takkan pernah berhenti; bumi akan terus berputar, pagi dan malam akan terus berganti, dan senja akan terus datang. Sebagai makhluk 'Mortal' apa yang bisa kita buat selain menikmati waktu yang saat ini kita punya, menikmati senja berlabuh – here and now – being present in the moment.

 

 

 

 

Comments

Popular posts from this blog

Lessons form 2021

Premeditatio Malorum: Sebuah refleksi tentang skenario (buruk) yang akan kita hadapi

Everything ends, and that is what makes them valuable