Premeditatio Malorum: Sebuah refleksi tentang skenario (buruk) yang akan kita hadapi

"… all these adventitious circumstances which glitter around us, such as children, office in the state, wealth, large halls, vestibules crowded with clients seeking vainly for admittance, a noble name, a well-born or beautiful wife, and every other thing which depends entirely upon uncertain and changeful fortune, are but furniture which is not our own, but entrusted to us on loan: none of these things are given to us outright: the stage of our lives is adorned with properties gathered from various sources, and soon to be returned to their several owners: some of them will be taken away on the first day, some on the second, and but few will remain till the end. " 
- Seneca

 

Untuk beberapa orang mimpi hanyalah sebatas ‘bunga tidur’ yang tidak memiliki arti dan korelasi dengan kehidupan nyata. Sebagian memepercayai bahwa mimipi memiliki arti tertentu yang berkorelasi kuat dengan ingatan, memori, bahkan kondisi psikologis seseorang. Dalam sudut pandang psikologi mimpi di sebut sebagai hasil dari kerja lobus frontal otak kita yang merangkai memori menjadi kejadian yang dapat dirasakan saat kita terlelap tidur.

Maka berangkat dari sebuah ‘mimpi buruk’ yang aku alami malam-malam kemarin, sebuah refleksi diri kembali muncul dengan membawa setumpuk kesadaran perihal kekhawatiran yang sangat umum bagi orang-orang seusiaku – mungkin.


Bahagia memang, saat kita menyadari bahwa orang yang kita cintai masih ada di dunia ini. At least,  kita masih diberikan kesempatan untuk menyaksikan betapa bahagianya mereka (ayah, ibu) menyaksikan kita tumbuh dan berkembang menjadi orang dewasa yang dahulu hanya seorang bayi mungil yang mereka suapi bubur; diajarkan caranya berjalan, dimandikan dan dibedaki, diantarkan sekolah serta diberikan uang jajan. Saat kita mulai dewasa, mereka juga dengan senang dan berat hati melepas kita untuk belajar jauh, mempercayakan kita memilih jalur hidup yang akan ditempuh. Bahkan mungkin kita cukup beruntung untuk bisa melihat bahagia dan sedihnya mereka menyaksikan kita mengucapkan janji suci dengan orang yang kita sebut sebagai ‘pasangan hidup’. Ya. Bahagianya kita adalah bahagianya mereka.

Namun terkadang, momen tertentu bisa membuat kita reflect, merenungkan segalanya – bahkan dengan skenario terburuk yang akan kita hadapi – ditinggalkan selamanya oleh mereka.

Sama halnya saat pulangnya aku ke rumah bulan lalu; menyaksikan wajah mereka yang lambat laun menua, badan yang semakin kurus, membuat hati ini tersentuh dan mempertanyakan “apakah memang secepat itu waktu berlalu?”. Rasa-rasanya baru kemarin bapak mengantarkanku daftar sekolah dengan mata berbinar-binar penuh harap serta guratan senyumannya yang tulus. Rasanya, baru kemarin ibu memberiku nasi timbel yang dibungkus daun pisang agar bisa kumakan setiba di kosan tempat perantauanku. Rasanya, baru lebaran kemarin nenek ikut berfoto bersama seusai shalat ied (yang tahun ini sudah meninggalkan kita). Seolah banyak sekali hal yang sudah aku abaikan dan kulewatkan begitu saja.

Namun memang seperti itu adanya. Entah kenapa mimpi buruk itu membuatku ingin sekali mendramatisir sekenario ini – dimana suatu saat kita akan ditinggalkan oleh orang-orang yang kita cintai – yang memang sudah menjadi hukum alam bahwa semua yang hidup akan mati (mortalitas), tak ada satupun keabadian yang utuh, semuanya hanyalah fana – dimana kita harusnya memberikan kesadaran penuh – bahwa setiap berjalannya waktu adalah sama dengan (=) berjalananya riwayat atau sejarah hidup kita sendiri. Alih-alih disibukan dengan kegiatan bermanfaat (meaningful)  yang membuat kita bahagia, kita malah sering sekali terperangkap oleh kekhawatiran berlebih yang disuguhkan oleh kompleksitas hidup dan cara kita bersikap menghadapinya. Namun apalah hidup jika hanya ‘statis’, bukankah tuhan memberikan ujian untuk membuat kita belajar darinya?

Pada akhirnya, kita hanya akan mengambil peran (take over) apa yang selama ini kita dapatkan dan kita pelajari.  Sakitnya kita saat kecil dulu akan digantikan oleh sakitnya orangtua kita yang sudah perlahan menua, penuh kasih sayangnya mereka merawat kita, digantikan dengan bagaimana kasih sayang yang kita berikan saat merawat mereka. Ini bukanlah sebuah konsep ‘simbiosis mutualisme’, melampaui itu kita menemukan kebahagiaan saat menyaksikan sendiri dengan mata terbuka bahwa beginilah hidup bekerja, bahwa kehidupan ini hanyalah sementara. Kebahagiaan yang kita dapatkan saat ini, orang-orang disekeliling kita yang sangat kita cintai, materi, kariir, bahkan alam yang kita singgahi semuanya akan berakhir pada waktu yang sudah ditentukan.

 Maka tidak heran, sebuah konsep muncul dari kalangan orang-orang pemikir (filsuf) dengan sebutan ‘premeditatio malorum’ dalam aliran Stoikisme (filsafat yunani) yang didirikan oleh Zeno dari Citium sekitar abad ke -3 SM. sebuah konsep dimana kita secara sukarela membayangkan atau memvisualisasikan (negative visualization) kemungkinan terburuk yang akan kita hadapi  – kehilangan hal-hal yang kita anggap berharga, yang mana salah satu tujuannya yaitu menumbuhkan rasa syukur terhadap apa yang sudah kita miliki. Karena dengan meluangkan waktu untuk ‘membayangkan’ kehilangan segalanya menstimulasi munculnya rasa sykur begitu kita menyadari ‘bayangan’ itu bukalan sebuah realitas pada momen saat ini.

Maka dari itu, ku ampuni diri ini atas waktu yang tidak kuhabiskan bersama mereka sebanyak mungkin. Berusaha memformulasikan rasa syukur dengan cara yang berbeda juga tidak berhenti berikhtiar serta berdoa kepada sang pemilik keabadian. 

 

Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

Lessons form 2021

Everything ends, and that is what makes them valuable