Perihal Menerima
Terkadang, ketidak-mengertian
datang disaat kita merasa sedikit tidak-menerima atau kurang-memahami situasi
yang pada saat itu terjadi. Pun bisa karena prasangka buruk yang ada.
Bahkan tanpa
adanya pemahaman dan kesadaran, kerap kita melampiaskan hal tersebut pada
situasi yang lebih sulit, membawa sedalam-dalamnya pikiran kita pada jurang keresahan.
Ku tutup mata
ini, menarik nafas sedalam-dalamnya. Dalam hati berkata “ya Allah, inikah jalan
hidup yang harus kutempuh?”
Ketidak-mengertianku
akan situasi ini kerap mendatangkan prasangka pada sang pencipta takdir. Rasa tidak
bisa menerima, kecewa, sedih, kerap hadir dalam waktu yang bersamaan. Sering
aku menggerutu, kesal, bahkan marah. Tapi satu hal yang dapat kupelajari
darinya adalah “tidak merubah keadaan apapun”. Terkadang, sebagai manusia aku
hanya menuruti keinginanku saja. Tanpa memfokuskan diri pada penyelasaian
masalah.
Satu hal yang
aku sadari adalah, hidup akan terus berlanjut apapun keadaan yang terjadi. Jam akan
terus berputar, hari berganti hari, bulan menyulam tahun. Dan seiring berjalannya
waktu kita akan menua, pemikiran kita akan terus tumbuh, orang-orang akan datang
dan pergi silih berganti, dan hidup akan mendatangkan cobaan-cobaan lain bagi
kita.
Lalu apakah
dengan rasa “tidak terima” ini kita dapat menjalani semua itu?
Jawabannya tentu
tidak. Karena “menerima” adalah hal paling mendasar untuk membukakan pintu hati
selebar-lebarnya. Tentu tidak mudah, bahkan bagiku pun terkadang sangat sulit. Tapi
apalah daya, karena ini bukan perihal kita ingin, tapi sebuah keharusan.
Kuserahkan
semuanya padamu ya rabb,
Jika ini jalan
hidup yang harus kulalui, kuatkan dan tegarkan hati ini.
Bismillah..
Comments
Post a Comment