Everything ends, and that is what makes them valuable

 

Sedih dan  bahagia, itulah yang saat ini kurasakan. Menghabiskan 24 jam lebih waktu untuk menelusuri jejak hidup masa perkuliahan membuatku merasa pause dan reflect, seolah waktu menghentikan sementara fungsinya dan mempersilahkan diriku mundur sejenak, melihat dan merasakan kembali napak tilas hidup yang menjadi bagian pendewasaan diri. Sedih karena waktu terasa sangat begitu singkat, dan bahagia karena ada hutang kerinduan yang terbayar lunas.

Melihat dan bertemu dengan mereka membuatku sadar, bahwa kita, manusia, dengan segala kompleksitasnya memiliki keterikatan satu sama lain; Ambisi, pilihan hidup, tuntutan, dan harapan sama-sama membuat kita dinamis.

Mendengar setiap masing-masing kisah dan jalan hidup yang mereka lalui, senyum dan tawa lepasnya, candaan serta obrolan seriusnya juga membuatku bersyukur bisa pernah dipertemukan dan berposes bersama, di tempat ini, tempat dimana semuanya dimulai.

Bandung. Satu kota yang berhasil membuatku jatuh hati dengan segala keindahan tempatnya, kesejukan udaranya, keramahan orang-orangnya,  dan kenangan yang pernah ku ukir didalamnya. Segala hal yang berhubungan dengannya, setiap sudut kotanya, selalu menyimpan kisah lama yang ingin kuhidupkan kembali. Disinilah harapan masa lalu kutinggalkan tanpa pernah kusapa kembali, sampai pada akhirnya aku datang dan semuanya seolah mendekap.

Kenyataannya, alur hidup memang susah ditebak. Realita bahwa aku tak lagi berada disana adalah sebuah kesedihan dan melihat orang-orang perlahan pergi adalah penyesalan. Andai saja aku bisa lebih lama, andai saja kumaksimalkan kembali waktu dan lebih banyak ku korbankan tenaga, mungkin saja semuanya akan bertahan sedikit lama. Namun ternyata aku menyadari satu hal – bahwa segala hal  terasa bernilai karena kita tahu bahwa itu akan berakhir. Seperti hidup yang saat ini kita jalani, ketidaktahuan kapan kita akan berhenti (meninggal) seolah membuat kita lupa, bahwa setiap waktu yang kita miliki jauh lebih berharga dibandingkan apapun. Sebaiknya, jika kita diberi tahu kapan kita akan berahir, dengan sadar kita akan sangat menghargai waktu, memanfaatkan segala yang tersisa untuk dikenang. Adalah sikap wajar yang saat ini kurasakan. Menjadi sosok egois menentang fungsi waktu untuk terus berhenti hanya karena mengetahui bahwa semuanya akan berakhir.  

Kini dan nanti, bumi akan terus berputar alur hidup berlanjut, kisah berganti. namun kenangan akan selalu hadir dalam ingatan.



everything ends. Youth, love, life, all end, and that’s what makes them valuable”.


Comments

Popular posts from this blog

Premeditatio Malorum: Sebuah refleksi tentang skenario (buruk) yang akan kita hadapi

Lessons form 2021

kon.tem.pla.si