Apa kabar mimpi-mimpimu ?
Sore ini langit jakarta cerah, tak seperti hari sebelumnya
yang mendung dan sendu membuatnya seolah tampak berbeda dari biasanya. Namun
keduanya memiliki kesamaan yang statis – kemacetan.
Ratusan kendaraan mengantri disetiap persimpangan jalan,
menunggu lampu hijau menyala, wajah-wajah lelah dengan tatapan-tatapan
kosongnya seolah megungkap banyak hal. Desakan tubuh manusia-manusia pejuang
nafkah didalam busway dan KRL menjadi babak akhir perjuangan mereka
untuk menutup hari ini dengan harapan secepatnya bisa membasahi tubuh dan
berbaring menikmati malam dengan lengkungan bulan sabitnya yang indah. Namun
nyatanya, beberapa dari mereka tak merasakan indahnya malam ini, beberapa tak
mengharapkan kedatangan esok hari. Beberapa, terdiam. Meratapi mimpi-mimpi yang
hanya menjadi sebuah catatan sejarah yang usang. Sepertiku, sosok yang kehilangan
arah dimana mimpi itu berada.
Apa kabar mimpi?
Satu pertanyaan yang tiba-tiba muncul dan mungkin sering
dipertanyakan. Kenyataan bahwa kita hidup di jalur yang “seharusnya” menuntut
banyak hal untuk di tinggalkan dan melupakan hidup di jalur yang “semestinya”,
seperti peperangan espektasi versus realita yang tak kunjung usai, keduanya
selalu berlawanan – meskipun terkadang tidak. Namun, begitulah hidup bekerja. Beberapa berada
di jalur yang “semestinya”, beberapa lainnya berada di jalur yang “seharusnya”.
Bukan karena mereka memilih, namun itulah kenyataan yang paling mungkin untuk
dijalani. Lagi, sepertiku, sosok yang harus memilih kemungkinan yang paling
realistis untuk dijalani.
Ada banyak mimpi yang ingin dicapai, banyak tempat yang ingin
dikunjungi, manusia lainnya yang ingin ditemui, dan pengalaman lainnya yang
ingin dimiliki. Namun “kemungkinan” untuk menggapai semua itu harus “mengorbankan”
apa yang saat ini dijalani. Sedihnya adalah aku hanya bisa menyaksikan ratusan
orang memperjuangkan mimpinya dibalik kaca besar dari ketinggian gedung, menghadapi
monitor dengan gagang telepon dan pembatas meja serta dinding-dindingnya yang
tipis – sebuah ironi.
Hari-hari berjalan dengan aktivitas yang majemuk, statis, dan
monoton. Seolah-olah aku hanyalah robot yang tak memiliki ruh untuk menikmati
hidup. Pepatah bilang “it’s all about your mindset” tapi nyatanya butuh waktu untuk melatih
konsistensi mindset kita agar terus sehat pada situasi itu. Manusia adalah makhluk yang memiliki sejarah
sebagai seorang pemburu, tubuhnya di design untuk harus selalu bergerak
dan dinamis – begitu juga pemikirannya. lantas, hal apa yang membuat kita
bertahan menjalani semua itu dan melupakan mimpi-mimpi kita yang hilang? apakah
uang yang kita cari mampu membayar kebebasan yang kita korbankan?
Begitulah kegelisahan yang saat ini kuhadapi. Kegelisahan dari
seorang karyawan kontrak swasta, seorang yang mulai mempertanyakan peran dan
tanggung jawabnya sebagai seorang anak, sebagai seorang individu dan bagian
dari sosial, seorang pemuda yang harus menikah, sebagai seorang yang harus hidup
dalam kesalahpahaman tentang kesuksesan, seseorang yang merindukan kebebasan,
dan
Seseorang yang rindu menyapa mimpi-mimpinya.
Apa kabar mimpi-mimpimu?

Comments
Post a Comment