kon.tem.pla.si




Time flies. Tidak terasa ternyata waktu berjalan begitu cepat. Ketika ku pejamkan mata ini dengan tarikan nafas panjang secara perahan dan kuhembuskan kembali, seketika memori-memori itupun kembali muncul. Ya. Setahun silam, ketika pertamakali aku memutuskan untuk pergi mencari tempat pembelajaran baru, pengalaman baru, dan memutuskan untuk meninggalkan kisah lama.
Tak terasa, rupanya tuhan memiliki rencananya sendiri untuk membawaku pergi menemui beberapa tempat dan orang-orang baru. Mengombang-ambingkan harapan dan mengacuhkan rindu yang kerap kali datang tanpa permisi.

Masih ingat sekali, moment dimana aku bingung untuk sekedar mencari tempat berlindung, pergi kesana kemari untuk sekedar mencari harapan yang masih tersisa. Sesekali ku keluhkan kekecewaan itu pada diri sendiri tatkala harapan itu hilang. Sampai benar-benar lelah rasanya dan hampir saja memutuskan untuk kembali – Tak ingin melawan arus yang sama. Tapi rupanya aku memiliki kekuatan tersendiri untuk bertahan. Rupanya merekalah yang kerap kali menguatkan tekadku untuk terus berjalan ke depan. Merekalah kekuatan yang selama ini membangun pribadiku menjadi lebih tangguh.
Sampai dengan saat ini, ketika rasa rindu itu hadir, kubuka kembali satu jalur yang dapat membuatku merasa terhubung dengan segalanya – kontemplasi.

Ternyata, segala kegiatan yang saat ini aku lakukan; kesibukan yang membuatku terus bergerak, pikiran yang terus bekerja, waktu yang kuhabiskan tiap harinya, kompensasi yang kuterima, dan semua kegiatan itu, hanyalah  semu – nyaris tak membuatku merasa exist.

 Ternyata aku keliru perihal anggapan banyak orang tentang makna kesuksesan hidup yang harus terukur secara kuantitas, namun melupakan kualitas batin dan ketenangan jiwa –  Itulah hakikatnya. Ada jiwa dan ruang kosong yang tak terisi. Seperti gelas yang hanya dibiarkan berdiri di ruangan yang gelap tanpa diisi air.

Ternyata aku tak memberi diri ini jeda, untuk sekedar menghidupkan lampu di ruangan dan menuangkan sedikit air kedalam gelas kosong itu. Ternyata ada ketenangan batin yang kuraih dari kontemplasi – reflect, dan membiarkannya mengalir, tanpa melawan arus, tanpa menghakimi mana lembah yang harus menampung aliran ini.
Ku bersyukur, atas apa yang pernah terjadi. Suka ataupun duka. Karena tuhan mengaturnya dengan sangat rinci seperti seharusnya itu terjadi. Dan perihal luka, biarkan waktu yang akan membiasakannnya hingga tak terasa sakit – yang kudapatkan kembali kekuatanya dari ber-Kontemplasi.

Berhentilah sejenak, merunduklah ke bawah, dan lihatlah kedua kakimu yang kelelahan harus kau langkahkan setiap saat.  Kemudian penjamkan sejenak kedua matamu, menghadaplah ke langit malam ini. Hey, rupanya kau sadar. Semesta itu sangat luas bukan? Jangan risau perihal banyak hal. Biarkan semesta bekerja, dan biarkan tubuh kita menjalankan fungsinya dengan benar.
Mari ber Kon.tem.pla.si


Selamat malam.


Comments

Popular posts from this blog

Lessons form 2021

Premeditatio Malorum: Sebuah refleksi tentang skenario (buruk) yang akan kita hadapi

Everything ends, and that is what makes them valuable