What ‘legacy’ do I have
Diiringi suara rintik hujan dengan aroma khas tanah yang dibasahinya, ditemani secangkir jahe merah hangat serta atmosfir lembabnya, membuatku seolah ingin merenung dan menulis sebagai bentuk refleksi diri.
Tak terasa waktu menunjukkan pukul 5 sore, setelah kurang lebih satu setengah jam waktu yang ditempuh dari Jakarta menuju Bekasi, pertemuanku dengan Bapak kali ini agak terasa berbeda. Kulihat sekilas detail guratan wajahnya yang semakin mengkerut, rambutnya yang mulai beruban, serta bobot tubuhnya yang tak lagi berisi seperti dulu, membuatku sadar akan pentingnya memanfatkan waktu kita yang terbatas. Anehnya, meski secara fisik tubuhnya berubah, semangat dan rasa kasih sayang Bapak terhadap keluarganya tidak berubah sama sekali.
Tentunya kita tahu bahwa hal tersebut adalah proses alamiah yang sangat normal – manusia tumbuh, berkembang, dan mengalami perubahan secara fisik – namun ada beban emosional yang tidak bisa ditawar ketika hal tersebut terjadi pada orang-orang yang sangat kita sayangi.
Melihat kebelakang, waktu dimana Mamah dan Bapak mengantarkantu mengambil raport sekolah, terlihat sangat kontras perubahan fisik mereka jika dibandingkan dengan sekarang, dimana aku bahkan kesulitan mengatur waktu untuk bertemu keduanya.
Dari mereka aku belajar berbagai hal tentang Hidup, dan atas kesempatan yang diberikan oleh semesta, aku cukup berutung sampai detik ini masih memiliki keduanya yang bisa suatu saat diajak bicara, atau menjadi tempat meleburkan segala beban mental yang sedang kualami. Mereka selayaknya Antibody yang memperkuat imun tubuh dari berbagai serangan bakteri dan virus.
Ada beberapa hal yang secara internal ‘diwariskan’ kepadaku dalam upaya menjalani hidup berdasarkan apa yang kuamati dari mereka:
§ Hidup Bukan hanya tentang materi, tapi kebermanfaatan terhadap sesama
Se-pengalamanku merantau – baik untuk mencari ilmu ataupun bekerja – Seringnya Bapak mengantarkantu dari rumah menuju terminal bus yang kurang lebih memakan waktu satu setengah jam bermotor. Disepanjang perjalanan, inti dari apa yang selalu dipesankan adalah jangan lupa untuk selalu memberikan ‘dampak baik’ sekecil apapun dan kepada siapapun khususnya orang-orang terdekat. Nasihat tersebut seolah menjadi template yang selalu melekat sampai sekarang meskipun pada praktiknya akan selalu ada hal yang terus diperbaiki dari diri ini. Bapak selalu mengingatkanku untuk sensitif dan peka terhadap situasi sekitar (mungkin itu salah satu faktor kenapa aku ‘agak’ sensitif). Se simpel mengingatkanku untuk memberi, menyuruhku berkunjung ke rumah saudara, mengajakku mengikutsertakan diri pada pengajian mingguan, atau acara-acara yang melibatkan banyak orang di kampung halamanku dengan harapan aku bisa berbaur dengan yang lain. It’s not surprised that Bapak is a ‘kokolot’ in his community called P12 (pemuda duabelas).
§ Little things matter
Bahkan sampai sekarang, nasi timbel buatan Mamah selalu menjadi bekel wajib untuk dibawa ketika berangkat merantau. Se simple ikatan plastik berisi sambel dan lipatan daun pisang berisi nasi, Mamah sangat detail dalam hal memastikan segalanya – jangan lupa makan, jangan lupa jajan, jangan lupa istirahat, jangan lupa menabung. Perlahan aku sadar bahwa se-sederhana apapun tindakan (action) sangat berarti dan bisa memberikan dampak yang besar (little things can actually make big impact). Mamah percaya bahwa melakukan hal tersebut adalah cara menghantarkan kasih sayangnya. Perlahan aku juga sadar bahwa filosofi never take anything for granted dapat di break down menjadi small actions tersebut.
§ Love and affection
Baik Mamah maupun Bapak – secara formal – keduanya bukanlah orang yang menempuh Pendidikan tinggi. Mamah hanya lulusan Sekolah Dasar dan Bapak lulusan MAN. Tentunya mereka tidak familiar dengan istilah parenting method ataupun kisi-kisi membangun keluarga yang harmonis dan menghasilkan generasi ‘Alpha’ – All they know is Love and Affection. Karena hanya bermodal Cinta dan Kasih sayang terhadap anak-anaknya saja mereka mampu mempertahankan keutuhan rumah tangganya sampai hari ini (we have been through a lot) bahkan mereka cukup ‘nekad’ berkorban secara emosional dan materil memperjuangkan anak-anaknya untuk sekolah demi mendapatkan kualitas hidup yang lebih baik. Terlebih dari bias-ku sebagai anak pertama, pengorbanan mereka sangat luar biasa. Hal tersebut perlahan membuatku berfikir, apakah bisa aku memiliki proporsi rasa cinta dan kasih sayang sebesar itu?
Dan tentunya akan banyak hal yang jika aku telaah ulang – secara sadar ataupun tidak – menjadikanku kepada siapa diriku saat ini. Satu hal yang pasti cerita setiap kehidupan manusia sangatlah kompleks – yang mungkin tidak bisa di deskripsikan hanya dengan medium tulisan saja. Baik diriku, maupun diri-diri kita diluar sana, semoga semesta masih berbaik hati memberikan kita kesempatan untuk ‘berbakti’ kepada mereka. Karena rupanya sifat alamiah waktu adalah membuat yang muda menjadi tua, mengubah yang hidup menjadi mati.

Comments
Post a Comment