Lessons form 2021
Adalah sebuah realitas bahwa hidup ini terus berjalan. Detik menyulam menit, menit menyulam jam, jam menyulam hari dan sereterunya – menuju ketitik dimana saat ini kita berada. Entah berapa ratus juta (atau bahkan milyar) detik waktu yang telah kita lewati untuk menghantarkan ‘diri kita’ saat ini melalui berbagai moment hidup yang sudah kita alami baik secara dualitas maupun paradoks.
Adalah sebuah misteri hari-hari yang akan datang selanjutnya, entah moment apa yang akan semesta hadiahkan untuk kita atau bahkan entah pada hitungan detik ke berapa waktu memberi sinyal kepada jantung kita untuk menghentikan fungsinya yang juga mengakhiri cerita hidup kita sebagai manusia yang berkomposisi unsur, molekul, sel dan jaringan – yang bersifat mortal.
Adalah kehendak Tuhan, bahwa sampai saat ini tubuh
kita masih berfungsi dengan baik untuk merasakan, melihat, serta mempelajari
bagaimana kita berevolusi. Pun untukku yang sampai saat saat ini masih merasa
takjub mengamati bagaimana kita – umat manusia – dapat betindak dan berperilaku
tertentu; membentuk struktur sosial, budaya, ideologi, bahasa, atau bahkan sekedar
mengekspresikan emosi seperti sedih, bahagia, marah dan bentuk emosi lainnya
yang (mungkin) belum di-bahasa-kan saat ini.
Dibalik kekaguman mengamati bagaimana kita tumbuh, sisi
lainnya yang menarik – pada level yang lebih spesifik – adalah setiap diri kita
masing-masing mempunyai cerita hidup yang berbeda namun saling berhubungan
antara satu dan lainnya yang dipengaruhi berbagai macam faktor seperi bagaimana
cara kita dibesarkan, lingkungan tempat kita hidup, orang-orang disekeliling
kita, informasi yang didapat, serta pengalaman masa lalu.
Berbicara mengenai kisah dan cerita hidup manusia memang
tidak ada habisnya. Ada banyak sekali moment yang dapat menjadi sebuah stimulus
bagi kita untuk berhenti, meneruskan, atau bahkan kembali memulai hal baru
dalam hidup.
Seperti moment pergantian tahun kemarin, dimana masing-masing dari kita seolah diingatkan untuk kembali melihat (atau bahkan mengenang) apa saja yang sudah kita lewati, dan pelajaran apa yang sudah kita dapatkan yang terangkum dalam berabagai bentuk visual di era digital ini mulai dari tulisan blog, video singkat instagram berjudul my 2021 hingga hastag (#) trending di twitter berrtema page 1 of 365.
Malampaui itu, untukku pribadi tahun 2021 menjadi tahun yang
sangat kompleks. Tahun dimana aku
merasakan berbagai momentum dalam hidup yang mungkin tidak banyak orang tahu
dan secara intrinsik mengubah cara
pandangku terhadap berberapa hal:
§ Life is not a competition, it is a
journey
Perasaan
left behind yang sering kali muncul
saat mendapat kabar dari teman sebaya tentang pekerjaan dan proses mengejar gelar
masternya, atau se-simpel membuka undangan virtual acara pernikahan maupun melihat
foto ‘menggemaskan’ kelahiran buah hati mereka yang terkadang menimbulkan
banyak pertanyaan kepada diri sendiri: “apakah
sebanyak ini tuntutan menjadi orang dewasa ?”, “apakah aku benar-benar
tertinggal?” lainnya, dan seterusnya. Membutuhkan waktu menyikapi hal
tersebut (bahkan sampai saat ini). namun perlahan aku sadar bahwa hidup
bukanlah sebuah kompetisi untuk mencapai tujuan (life is not supposed to be a competition, right ?). bukan tentang
siapa yang memulai lebih awal, tapi tentang menikmati proses sepanjang perjalanan (and everyone has their own path, right
?). sangat klise tapi memang seperti itu kenyatannya – bahwa kita memang memiliki
timing dan versi “goals” yang berbeda
dengan masing-masing individu lainnya.
§ Never take anything for granted
Tahun 2021
ini, ada banyak berita duka yang kudengar dari saudara dan teman dekat. Kepergian
Alm. Emak (nenek) awal tahun tersebut masih menyisakan duka yang mendalam
sampai hari ini. Namun kenyataan bahwa sampai saat ini diriku memiliki kedua
orangtua yang masih hidup yang amat menyayangi kedua anaknya adalah sebuah blessing. Bahkan melampaui hal tersebut,
aku masih bisa menikmati indahnya senja, tidur dengan nyaman, memiliki pekerjaan,
mendengarkan musik, membaca buku, beribadah, menghabiskan waktu dengan teman
dan segala bentuk hal lainnya yang terkadang kita lupa dan abai begitu saja. when we sit and consider all that we have,
though, we’ll stop taking so many things for granted and realize that we are
really quite fortunate.
§ At the end of the day, all you need
is to be happy
Salah
satu keputusan terbesar yang diambil di awal tahun 2021 kemarin adalah resign. Alasan terbesarnya adalah aku
menganggap tidak merasa bahagia di lingkungan kerja tersebut dan berusaha
mengasosiasikan kebahagiaan pada hal lain sebagai rasionalisasi diri. Padahal kenyataannya:
kebahagian bukanlah sesuatu yang harus kita temukan, tapi sesuatu yang harus
kita bentuk. Dalam bukunya Mean’s Search
for Meaning, Viktor Frankl menulis: “everything
can be taken for a man but one thing: the last of human freedoms – to choose
one’s attitude in any given set of circumtances, to choose one’s own way.” Bahkan
dalam keadaan lingkungan apapun, kita masih punya “freedom” untuk menentukan
sikap (bahagia/tidak). Perlahan aku
sadar bahwa pada akhirnya apapun yang kita kerjakan; adalah perihal
memperjuangkan kebahagian, dan kebahagiaan tersebut bukanlah sesuatu yang
absolut, melainkan abstrak – yang hanya bisa kita rasakan ketika kita
menentukan sendiri sikap untuk bahagia berdasarkan sudut pandang yang benar
terhadap suatu hal.
Dan tentunya ada banyak hal lain yang (mungkin) secara tidak
sadar kulewatkan begitu saja di tahun tersebut. Satu hal yang pasti, kita semua
memiliki proses pendewasaan diri dengan cara yang berbeda, disuguhkan dalam
bentuk yang berbeda pula karena untuk beberapa orang – khususnya untukku, milestone tidak hanya sekedar pencapaian
konkret yang bisa terlihat secara materil namun melampaui itu.
Semoga di detik-detik berikutnya yang akan datang, kita
selalu diberikan kesempatan untuk terus tumbuh berevolusi menjadi manusia yang
lebih baik. Selamat melanjutkan (dan) memulai kembali cerita.
Suka banget tulisan dan pemikirannya Ilyas. Keep going!!!!
ReplyDelete