Tak ingin Menetap


Sore ini hujan.
Entahlah, apa yang membuat aku ingin menulis. Semua berjalan begitu saja. Hanya karena sekarang hujan, dan suara gemercik air diluar terasa riuh dengan harumnya yang khas, kerap membuat jiwa ini tak bisa mengalah untuk bercerita.

Entah harus mulai dari mana, beberapa hari ini aku merasa sedikit risau tentang bagaimana harusnya aku menentukan jalan hidup. Sulit rasanya memutuskan satu hal yang pasti. Terlalu banyak alasan untuk tetap bertahan, terlalu banyak hal yang menariku untuk tetap menetap pada atap yang tak berharap ini. Ingin rasanya memberanikan diri untuk berlali sejauh yang aku bisa, namun apalah daya, keterbatasan selalu menjadi alasan paling kuat. Terkadang aku berfikir, “apakah ini saatnya aku untuk kembali?”

Hidup memang tak menjanjikan banyak kepastian, satu-satunya hal yang pasti hanyalah kematian. Namun, apakah hanya dengan aku memutuskan untuk kembali lantas cerita ini akan terhenti? Ataukah justru hanya akan menambah kesakitan demi kesakitan lainnya?

Begitu banyak hal yang sudah kelalui di sini. Di tempat ini, dimana episode demi episode cerita ini aku lalui. Bertemu dengan banyak pemeran lainnya, mengunjungi berbagai tempat baru, serta memahami berbagai karakter lain. Beberapa pemeran ada yang sulit aku lupakan, namun tidak bagi yang lainnya. Mereka memilih untuk pergi, memulai cerita yang baru, memerankan sosok-sosok baru. Namun, apalah aku. Hanya tetap di sini. Berdiri, menyaksikan betapa ramai orang berlalu lalang untuk pergi, mengupayakan agar kisahnya lebih baik dari sebelumnya. Agar mereka memerankan peran sesuai dengan apa yang mereka inginkan.

Namun terkadang, lelah rasanya menyaksikan keramaian itu. Aku berfikir bahwa aku juga harus menjadi bagian darinya. Supaya aku bisa dengan cepat melupakan beberapa pemeran ini. Aku juga harus punya harapan baru, dan aku berhak untuk menggapai semua itu, meski terkadang berat rasanya untuk memulai. Tapi alangkah menyedihkannya jika aku hanya terus berdiri dan menyaksikan mereka.

Aku belajar dari beberapa hari yang telah kulalui. Betapa kerasnya kehidupan ini. Apalah daya, selayaknya manusia biasa kita hanya perlu menyadari bahwa kita ada dalam keterlibatan.
Memulai cerita yang baru adalah sebuah keharusan yang harus aku libatkan dalam mimpi-mimpi kedepan. Aku harus terus bergerak melangkah, sekuat apapun keadaan ini memaksaku untuk diam.


Comments

Popular posts from this blog

Lessons form 2021

Premeditatio Malorum: Sebuah refleksi tentang skenario (buruk) yang akan kita hadapi

Everything ends, and that is what makes them valuable