Posts

Showing posts from 2022

What ‘legacy’ do I have

Image
      Diiringi suara rintik hujan dengan aroma khas tanah yang dibasahinya, ditemani secangkir jahe merah hangat serta atmosfir lembabnya, membuatku seolah ingin merenung dan menulis sebagai bentuk refleksi diri.      Tak terasa waktu menunjukkan pukul 5 sore, setelah kurang lebih satu setengah jam waktu yang ditempuh dari Jakarta menuju Bekasi, pertemuanku dengan Bapak kali ini agak terasa berbeda. Kulihat sekilas detail guratan wajahnya yang semakin mengkerut, rambutnya yang mulai beruban, serta bobot tubuhnya yang tak lagi berisi seperti dulu, membuatku sadar akan pentingnya memanfatkan waktu kita yang terbatas. Anehnya, meski secara fisik tubuhnya berubah, semangat dan rasa kasih sayang Bapak terhadap keluarganya tidak berubah sama sekali.    Tentunya kita tahu bahwa hal tersebut adalah proses alamiah yang sangat normal – manusia tumbuh, berkembang, dan mengalami perubahan secara fisik – namun ada beban emosional yang tidak bisa ditawar ketika...

A complex human being

  Every person has a story, their own dreams and pains, just as valid as yours or mine.  It’s important to reflect : we’re all just trying to find our own version of happiness. -M.A   Terkadang kita lupa memberi diri kita ruang untuk menyadari ‘ketidaktahuan’ tentang berbagai hal yang terjadi. Dorongan untuk mendapatkan jawaban mengiring hati dan logika kita untuk berperang – menyimpulkan berbagai kemungkinan yang ‘seharusnya’ atau ‘semestinya’ terjadi. Ketidaksempurnaan dan keterbatasan cara berfikir kita terkadang lupa mendapat perhatian diri sendiri. Alih-alih melihat kedalam diri, kita seringkali melihat keluar, mencari objek lain sebagai pembenaran berbagai kesimpulan yang kita buat sendiri.   Begitulah kita (aku) – manusia dengan berbagai kompleksitasnya.   Hari ini, aku kembali disadarkan pada kenyataan: bahwa akan selalu ada celah bagi kita untuk berbuat suatu kesalahan baik kepada diri sendiri maupun orang lain – disadari atau tidak – yang...

Lessons form 2021

Image
  Adalah sebuah realitas bahwa hidup ini terus berjalan. Detik menyulam menit, menit menyulam jam, jam menyulam hari dan sereterunya – menuju ketitik dimana saat ini kita berada. Entah berapa ratus juta (atau bahkan milyar) detik waktu yang telah kita lewati untuk menghantarkan ‘diri kita’ saat ini melalui berbagai moment hidup yang sudah kita alami baik secara dualitas maupun paradoks. Adalah sebuah misteri hari-hari yang akan datang selanjutnya, entah moment apa yang akan semesta hadiahkan untuk kita atau bahkan entah pada hitungan detik ke berapa waktu memberi sinyal kepada jantung kita untuk menghentikan fungsinya yang juga mengakhiri cerita hidup kita sebagai manusia yang berkomposisi unsur, molekul, sel dan jaringan – yang bersifat mortal. Adalah kehendak Tuhan, bahwa sampai saat ini tubuh kita masih berfungsi dengan baik untuk merasakan, melihat, serta mempelajari bagaimana kita berevolusi. Pun untukku yang sampai saat saat ini masih merasa takjub mengamati bagaimana kita – ...